Siapakah Member Care itu?
komponen
/kom·po·nen/ /komponén/
Member Care Indonesia (MCI) bukanlah sebuah yayasan atau lembaga misi, melainkan sebuah jaringan atau networking. Sifatnya sebagai sebuah jaringan memungkinkan terjadinya sebuah kolaborasi di dalam jala ikan yang lebih luas bagi pekerjaan Tuhan di Indonesia.

Siapakah Member Care Indonesia?

Member Care Indonesia (MCI) bukanlah sebuah yayasan atau lembaga misi, melainkan sebuah jaringan atau networking. Sifatnya sebagai sebuah jaringan memungkinkan terjadinya sebuah kolaborasi di dalam jala ikan yang lebih luas bagi pekerjaan Tuhan di Indonesia. Gereja dari beragam denominasi, lembaga misi nasional dan internasional, sekolah Alkitab atau Teologi atau misi, para utusan lintas budaya, para pemerhati misi dan kaum professional Kristen, semua pihak dapat memperoleh berkat melalui jaringan Member Care, serta semua pihak dapat menjadi berkat di dalam jaringan ini. MCI berusaha mengadakan training-training untuk membuka wawasan dan melatih para pelaku atau calon pelaku Member Care di Indonesia untuk semakin terampil dalam melakukan pendampingan pelayanan lintas budaya.

Siapakah Para Trainer Member Care Indonesia?

Training yang dilakukan akan dipimpin oleh para Head Trainer, Trainer dan Fasilitator MCI yang telah berpengalaman menerapkan prinsip-prinsip pendampingan Member Care di gereja atau yayasan misi di Indonesia.

Siapakah yang bisa mengikuti training Member Care?

  1. Gereja sebagai pengutus ULB bertanggung jawab, tidak hanya untuk mengutus namun juga untuk mendampingi para utusannya. Oleh karena itu, Gereja membutuhkan informasi mengenai Member Care dan rekanan pelayanan yang luas dalam melakukan Member Care. Gereja pada umumnya belum begitu mengenali situasi garis depan pelayanan, sehingga dalam hal ini gereja dapat bekerja sama dengan Yayasan Misi yang telah memiliki informasi dan infrastruktur di garis depan misi. Dalam mendampingi pekerjanya, gereja juga perlu berjejaring dengan para professional Kristen di Indonesia (dokter, ahli hukum, ahli listrik, ahli gizi, konselor, pendidik, dsb.) untuk dapat memperlengkapi dan mendampingi utusannya lebih baik lagi.
  2. Yayasan misi sebagai sebuah lembaga yang telah membangun visi dan misinya bagi ladang-ladang tertentu membutuhkan pekerja yang sehat, tangguh dan efektif. Sumber pekerja ini dapat datang dari gereja dan sekolah Alkitab. Yayasan perlu mengenali utusannya yang sebelumnya telah dibina di gereja atau sekolah lokal. Dalam proses perekrutan, pengutusan dan pendampingan utusannya, yayasan misi perlu menerapkan Member Care baik bagi utusan yang tersedia dalam bentuk unit keluarga, keluarga dengan anak dan lajang. Tentunya bantuan dari professional Kristen akan sangat menolong proses terjadinya Member Care yang berkelanjutan.
  3. Sekolah Alkitab atau sekolah Teologi atau Sekolah Misi sejatinya adalah tempat di mana seorang calon ULB diproses dan diperlengkapi dengan baik. Ia tidak dapat bekerja sendiri. Ia perlu bekerjasama dengan gereja-gereja yang misioner agar anak didiknya kemudian dapat melayani di ladang-ladang yang mengerjakan misi Allah. Ia perlu bekerja sama dengan lembaga misi, agar dapat mengenali kebutuhan lapangan dan mempersiapkan anak didiknya dengan lebih tepat guna. Ia bertanggung jawab menghasilkan ULB yang bukan hanya cerdas, namun juga siap mengemban Amanat Agung. Serta, bukan sekedar dipenuhi dengan semangat Amanat Agung, namun juga anak didik yang paham bagaimana melakukannya dengan sehat, tangguh dan efektif di dalam ladang misi.
  4. ULB atau pekerja misi itu sendiri perlu mengenali sumber-sumber stress dan sumber-sumber Member Care yang ia miliki. Ia tidak dapat berjuang sendirian, karena misi bukanlah proyek seorang diri. Ia membutuhkan dukungan Tuhan Yesus Kristus, gereja pengutus, lembaga pengutus, rekan pendoa atau pemerhati misi, dsb. Bahkan, di dalam situasi-situasi lapangan, ia membutuhkan bantuan rekan professional Kristen untuk menghadapi tantangan pelayanan yang spesifik.
  5. Para pemerhati misi, ini bisa saja seorang majelis, konselor gereja, pembina kerohanian baik di gereja maupun di kampus-kampus, ataupun juga jemaat awam yang memiliki hati untuk berdoa dan memberi bagi misi. Para pemerhati misi ini perlu membuka wawasannya akan misi dan Member Care. Mereka adalah sumber-sumber Member Care yang sangat berpotensi memiliki peranan penting bagi pendampingan misi ULB.
  6. Para professional Kristen di seluruh penjuru Indonesia perlu memahami Member Care dan apa potensi peran profesionalnya bagi misi. Tidak semua gereja, lembaga misi ataupun ULB itu sendiri memiliki ilmu medis, hukum, pendidikan, konseling, tata kota, dsb. Oleh karena itu, professional Kristen (ahli medis, ahli hukum, ahli pendidikan, konselor, ahli gizi, ahli keunganan, ahli IT, ahli teknik, dsb.) memiliki peran yang spesifik dan sangat dibutuhkan dalam pengembangan Member Care bagi ULB. Seribu satu situasi yang dialami di ladang pelayanan, tidak dapat dihadapi sendirian oleh ULB, oleh karena itu tubuh Kristus akan semakin berfungsi dengan kehadiran para professional Kristen di dalamnya.
  7. Pada dasarnya semua orang Kristen turut terpanggil di dalam Amanat Agung sesuai perannya masing-masing. Dan mereka yang terpanggil di dalamnya perlu untuk mengetahui dan mempraktekan Member Care demi keberlangsungan Amanat Agung sampai Tuhan Yesus datang kembali.