Sejak Kapan Member Care Ada?
Sejarah
/se.ja.rah/ /sêjarah/
Sejak sekitar tahun 1970 para praktisi misi di Amerika dan Eropa semakin menyadari pentingnya "Member Care" untuk ULB. Artikel dan buku tentang "mental health and missions" mulai ditulis dan ada semakin banyak konferensi di mana para pemimpin misi dapat bertemu dengan para ahli psikologi yang menaruh perhatian pada apa yang dialami para ULB, termasuk juga anak-anak mereka.

Kepedulian Tuhan Yesus terhadap mereka yang diutus-Nya sangat nyata, mulai dari saat mereka dipilih dan dipanggil-Nya.

Sejarah Misi. Tetapi rupanya segi kepedulian pengutus seperti ini cenderung diabaikan dalam sejarah misi karena misionaris alias utusan lintas budaya (ULB) dianggap pahlawan iman, tahan banting, dengan sengaja memilih kehidupan yang penuh pengorbanan, siap mati ... tidak perlu didampingi. Tentu selalu ada saja pemimpin misi dan rekan sepelayanan yang peduli, tetapi sering tidak ada sistem member care dalam kegerakan misi. Secara khusus ada tidak sedikit anak ULB yang merasa terabaikan.

Member Care sedunia. Sejak sekitar tahun 1970 para praktisi misi di Amerika dan Eropa semakin menyadari pentingnya "Member Care" untuk ULB. Artikel dan buku tentang "mental health and missions" mulai ditulis dan ada semakin banyak konferensi di mana para pemimpin misi dapat bertemu dengan para ahli psikologi yang menaruh perhatian pada apa yang dialami para ULB, termasuk juga anak-anak mereka. Global Member Care Network merupakan bagian dari World Evangelical Alliance.

Member Care di Indonesia. Bulan Mei 2004 PJRN (sekarang IPN) mengadakan Seminar Member Care Indonesia pertama di Jakarta dengan Brenda Bosch, ahli Member Care dari Afrika Selatan. Tahun berikutnya pakar "Member Care" kelas dunia, Dr. Kelly O'Donnell dari Eropa dan Grace Alag dari Pilipina menjadi nara sumber utama dalam Konsultasi Member Care Nasional di Jakarta. Waktu itu banyak bahan member care disiapkan dalam bahasa Indonesia tetapi sayang sekali dampak konsultasi tsb. untuk kegerakan misi di Indonesia makin lama makin kecil.

Pada Desember 2012 Traugott dan Hanni Boeker, yang 20 tahun sebelumnya pernah melayani bersama Institut Injil Indonesia di Batu-Malang, kembali ke Indonesia dengan suatu visi untuk membantu kegerakan misi Indonesia dalam bidang Member Care.

Pada bulan Mei 2013 Konsultasi Member Care Indonesia (KMCI) ke-2 dapat diadakan di Jakarta dengan Dr. Laura Mae Gardner, seorang pakar dan praktisi Member Care dari AS, sebagai nara sumber yang kompeten dan ramah. Ada lebih dari 100 pemimpin gereja dan lembaga yang hadir. Kesimpulan pada peserta waktu itu bahwa "Member Care" mengisi kebutuhan nyata dalam kegerakan misi Indonesia dan perlu disosialisasikan seluas-luasnya.

KMCI ke-3 di Surabaya pada bulan Juni 2014 mempertemukan 140 peserta dari 26 lembaga misi, 15 gereja dan 5 sekolah teologi – sekali lagi dengan Dr. Gardner sebagai nara sumber. Penerbitan buku beliau "Sehat, Tangguh & Efektif dalam pelayanan lintas budaya: Panduan lengkap Member Care" sangat menunjang pemahaman sambil menyediakan resources yang lebih lengkap.

KMCI ke-4 bulan November 2015 di Bandung dihadiri oleh 200+ peserta dari 32 Gereja, 27 Yayasan dan 8 STT. Sejak itu kegerakan Member Care di Indonesia terasa semakin mendarat dan berkembang dan membuahkan 'Member Care Indonesia' – sebuah jaringan yang dihidupi oleh pribadi-pribadi yang berhati Member Care dari berbagai lembaga dan gereja.

'Member Care Indonesia' berdiri untuk membantu gereja-gereja dan lembaga-lembaga pengutus dengan pelatihan Member Care, yaitu tentang penanangan para ULB pada masa persiapan, pelayanan di lapangan dan waktu kembali agar tetap sehat, tangguh dan efektif serta memuliakan Allah dalam kehidupan dan pelayanan.