...memperlengkapi para utusan lintas budaya agar tetap
SEHAT, TANGGUH, EFEKTIF dan MEMULIAKAN ALLAH...
What?
Why?
Who?
When?
Where?
How?
definisi
/de·fi·ni·si/ /définisi/
Member Care adalah kegiatan yang berkelanjutan mulai dari perekrutan sampai kepada penyelesaian pelayanan, untuk memperlengkapi para utusan lintas budaya supaya tetap sehat, tangguh, efektif dan memuliakan Allah dalam kehidupan dan pelayanan lintas budaya

“Member Care” adalah istilah yang dipakai di seluruh dunia untuk kepedulian dan pendampingan terhadap para utusan lintas budaya (“member of the mission team”).
Tujuannya ialah untuk menguatkan dan memberdayakan mereka yang ada di garis depan pemberitaan Injil sedunia.

Kepedulian seperti ini dipraktikkan Tuhan Yesus selama Dia melayani di bumi, dilakukan gereja mula-mula sebagaimana terbaca dalam Kisah para Rasul dan dapat ditemukan dalam berbagai bentuk sepanjang sejarah misi.
Member Care itu terefleksi dalam kitab Amsal dan dalam perenungan pemazmur.

Inti Member Care ialah hubungan antar pribadi yang mendukung dan bentuk-bentuk pelayanan yang mendorong penyesuaian dan pertumbuhan pemberita Injil yang terus-menerus.

Member Care mengakui realita kelemahan manusia (termasuk manusia Tuhan!), realita peperangan rohani serta kebutuhan akan anugerah Allah yang menopang.

Kita semua menyadari bahwa misi ada harga yang harus dibayar.
Pengorbanan dan penderitaan sering menjadi pendamping misionaris.
Ada risiko yang tinggi dan hasil serta keuntungan sewaktu-waktu hanya sedikit.
Harga yang harus dibayar oleh pemberita Injil secara lintas budaya begitu tinggi – dan hanya diimbangi oleh buah kekal yang dihasilkannya.

Kepedulian dan kepekaan yang berkelanjutan diperlukan dalam usaha menunjang mereka yang terpanggil untuk tugas ilahi yang sangat menuntut ini.

(Dr. John Powell in Missionary Care: counting the cost for World Evangelization, 1992, p. 7)
alasan
/alas·an/
Tujuan Member Care ialah agar Utusan Lintas Budaya (ULB) sehat, tangguh dan efektif, agar Allah dimuliakan dalam kehidupan dan pelayanan. Tujuan Member Care yang paling utama, yang melebihi pencegahan dan pemulihan sesudah terjadinya sebuah krisis, ialah pengembangan manusia agar seluruh rencana Allah dapat terwujud sepenuhnya dan hamba Tuhan semakin ditransformasi menjadi serupa dengan gambar Allah, dengan demikian Allah dimuliakan dalam kehidupan dan pelayanan ULB.

Member Care dibutuhkan karena:

  1. Model Member Care Bapa surgawi terhadap Tuhan Yesus, utusan-Nya. Pola dasar kepedulian pengutus terhadap utusan lintas budaya berasal langsung dari contoh Bapa surgawi terhadap Tuhan Yesus Kristus – dan kemudian didukung oleh penelitian ilmiah.
  2. Contoh Tuhan Yesus yang mengutus murid-murid-Nya seperti seorang Bapa. Pengutusan murid-murid dan kita juga oleh Tuhan Yesus mengikuti pola pengutusan yang sudah dilakasanakan oleh Bapa Surgawi kepada Anak-Nya yang tunggal.
  3. Amanat Agung tidak boleh terlepas dari Perintah Agung.
  4. Realita Pelayanan Lintas Budaya Menuntut Hadirnya Member Care. Diperlukan adanya pemahaman akan sumber stres yang dialami ULB dan memiliki perencanaan untuk mempersiapkan ULB menghadapi penderitaan dalam pelayanan.
  5. Semakin jauh utusan dari komunitasnya, semakin perlu pendukungan khusus. Di dalam pelayanan lintas budaya kebutuhan akan dukungan meningkat sesuai dengan bertambah jauhnya ULB dari basis pendukungannya.
  6. Contoh relasi Rasul Paulus dan gereja-gereja Perjanjian Baru sebagai penerima dan pemberi Member Care. Kesan secara umum bahwa Paulus tidak memerlukan Member Care adalah keliru. Sesungguhnya ULB Paulus sangat sadar bahwa dia mendapat kepedulian dari Tuhan Yesus yang mengasihinya dan dari puluhan sahabat.
  7. Member Care membawa manfaat nyata, antara lain: ULB lebih sehat, tangguh & efektif dan tidak cepat mengundurkan diri; semangat juang dan hasil kerja ULB meningkat; utusan lebih tangguh menghadapi krisis; penghematan biaya ke depan.
komponen
/kom·po·nen/ /komponén/
"Member Care bertitik tolak kepada cara pandang terhadap manusia sebagai ciptaan menurut gambar dan rupa Allah sendiri. Itu berarti setiap pekerja lapangan amat berharga dan layak dihormati dan dipedulikan."

Siapakah Member Care Indonesia?

Member Care Indonesia (MCI) bukanlah sebuah yayasan atau lembaga misi, melainkan sebuah jaringan atau networking. Sifatnya sebagai sebuah jaringan memungkinkan terjadinya sebuah kolaborasi di dalam jala ikan yang lebih luas bagi pekerjaan Tuhan di Indonesia. Gereja dari beragam denominasi, lembaga misi nasional dan internasional, sekolah Alkitab atau Teologi atau misi, para utusan lintas budaya, para pemerhati misi dan kaum professional Kristen, semua pihak dapat memperoleh berkat melalui jaringan Member Care, serta semua pihak dapat menjadi berkat di dalam jaringan ini. MCI berusaha mengadakan training-training untuk membuka wawasan dan melatih para pelaku atau calon pelaku Member Care di Indonesia untuk semakin terampil dalam melakukan pendampingan pelayanan lintas budaya.

Siapakah Para Trainer Member Care Indonesia?

Training yang dilakukan akan dipimpin oleh para Head Trainer, Trainer dan Fasilitator MCI yang telah berpengalaman menerapkan prinsip-prinsip pendampingan Member Care di gereja atau yayasan misi di Indonesia.

Siapakah yang bisa mengikuti training Member Care?

  1. Gereja sebagai pengutus ULB bertanggung jawab, tidak hanya untuk mengutus namun juga untuk mendampingi para utusannya. Oleh karena itu, Gereja membutuhkan informasi mengenai Member Care dan rekanan pelayanan yang luas dalam melakukan Member Care. Gereja pada umumnya belum begitu mengenali situasi garis depan pelayanan, sehingga dalam hal ini gereja dapat bekerja sama dengan Yayasan Misi yang telah memiliki informasi dan infrastruktur di garis depan misi. Dalam mendampingi pekerjanya, gereja juga perlu berjejaring dengan para professional Kristen di Indonesia (dokter, ahli hukum, ahli listrik, ahli gizi, konselor, pendidik, dsb.) untuk dapat memperlengkapi dan mendampingi utusannya lebih baik lagi.
  2. Yayasan misi sebagai sebuah lembaga yang telah membangun visi dan misinya bagi ladang-ladang tertentu membutuhkan pekerja yang sehat, tangguh dan efektif. Sumber pekerja ini dapat datang dari gereja dan sekolah Alkitab. Yayasan perlu mengenali utusannya yang sebelumnya telah dibina di gereja atau sekolah lokal. Dalam proses perekrutan, pengutusan dan pendampingan utusannya, yayasan misi perlu menerapkan Member Care baik bagi utusan yang tersedia dalam bentuk unit keluarga, keluarga dengan anak dan lajang. Tentunya bantuan dari professional Kristen akan sangat menolong proses terjadinya Member Care yang berkelanjutan.
  3. Sekolah Alkitab atau sekolah Teologi atau Sekolah Misi sejatinya adalah tempat di mana seorang calon ULB diproses dan diperlengkapi dengan baik. Ia tidak dapat bekerja sendiri. Ia perlu bekerjasama dengan gereja-gereja yang misioner agar anak didiknya kemudian dapat melayani di ladang-ladang yang mengerjakan misi Allah. Ia perlu bekerja sama dengan lembaga misi, agar dapat mengenali kebutuhan lapangan dan mempersiapkan anak didiknya dengan lebih tepat guna. Ia bertanggung jawab menghasilkan ULB yang bukan hanya cerdas, namun juga siap mengemban Amanat Agung. Serta, bukan sekedar dipenuhi dengan semangat Amanat Agung, namun juga anak didik yang paham bagaimana melakukannya dengan sehat, tangguh dan efektif di dalam ladang misi.
  4. ULB atau pekerja misi itu sendiri perlu mengenali sumber-sumber stress dan sumber-sumber Member Care yang ia miliki. Ia tidak dapat berjuang sendirian, karena misi bukanlah proyek seorang diri. Ia membutuhkan dukungan Tuhan Yesus Kristus, gereja pengutus, lembaga pengutus, rekan pendoa atau pemerhati misi, dsb. Bahkan, di dalam situasi-situasi lapangan, ia membutuhkan bantuan rekan professional Kristen untuk menghadapi tantangan pelayanan yang spesifik.
  5. Para pemerhati misi, ini bisa saja seorang majelis, konselor gereja, pembina kerohanian baik di gereja maupun di kampus-kampus, ataupun juga jemaat awam yang memiliki hati untuk berdoa dan memberi bagi misi. Para pemerhati misi ini perlu membuka wawasannya akan misi dan Member Care. Mereka adalah sumber-sumber Member Care yang sangat berpotensi memiliki peranan penting bagi pendampingan misi ULB.
  6. Para professional Kristen di seluruh penjuru Indonesia perlu memahami Member Care dan apa potensi peran profesionalnya bagi misi. Tidak semua gereja, lembaga misi ataupun ULB itu sendiri memiliki ilmu medis, hukum, pendidikan, konseling, tata kota, dsb. Oleh karena itu, professional Kristen (ahli medis, ahli hukum, ahli pendidikan, konselor, ahli gizi, ahli keunganan, ahli IT, ahli teknik, dsb.) memiliki peran yang spesifik dan sangat dibutuhkan dalam pengembangan Member Care bagi ULB. Seribu satu situasi yang dialami di ladang pelayanan, tidak dapat dihadapi sendirian oleh ULB, oleh karena itu tubuh Kristus akan semakin berfungsi dengan kehadiran para professional Kristen di dalamnya.
  7. Pada dasarnya semua orang Kristen turut terpanggil di dalam Amanat Agung sesuai perannya masing-masing. Dan mereka yang terpanggil di dalamnya perlu untuk mengetahui dan mempraktekan Member Care demi keberlangsungan Amanat Agung sampai Tuhan Yesus datang kembali.
Sejarah
/se.ja.rah/ /sêjarah/

Kepedulian Tuhan Yesus terhadap mereka yang diutus-Nya sangat nyata, mulai dari saat mereka dipilih dan dipanggil-Nya.

Sejarah Misi. Tetapi rupanya segi kepedulian pengutus seperti ini cenderung diabaikan dalam sejarah misi karena misionaris alias utusan lintas budaya (ULB) dianggap pahlawan iman, tahan banting, dengan sengaja memilih kehidupan yang penuh pengorbanan, siap mati ... tidak perlu didampingi. Tentu selalu ada saja pemimpin misi dan rekan sepelayanan yang peduli, tetapi sering tidak ada sistem member care dalam kegerakan misi. Secara khusus ada tidak sedikit anak ULB yang merasa terabaikan.

Member Care sedunia. Sejak sekitar tahun 1970 para praktisi misi di Amerika dan Eropa semakin menyadari pentingnya "Member Care" untuk ULB. Artikel dan buku tentang "mental health and missions" mulai ditulis dan ada semakin banyak konferensi di mana para pemimpin misi dapat bertemu dengan para ahli psikologi yang menaruh perhatian pada apa yang dialami para ULB, termasuk juga anak-anak mereka. Global Member Care Network merupakan bagian dari World Evangelical Alliance.

Member Care di Indonesia. Bulan Mei 2004 PJRN (sekarang IPN) mengadakan Seminar Member Care Indonesia pertama di Jakarta dengan Brenda Bosch, ahli Member Care dari Afrika Selatan. Tahun berikutnya pakar "Member Care" kelas dunia, Dr. Kelly O'Donnell dari Eropa dan Grace Alag dari Pilipina menjadi nara sumber utama dalam Konsultasi Member Care Nasional di Jakarta. Waktu itu banyak bahan member care disiapkan dalam bahasa Indonesia tetapi sayang sekali dampak konsultasi tsb. untuk kegerakan misi di Indonesia makin lama makin kecil.

Pada Desember 2012 Traugott dan Hanni Boeker, yang 20 tahun sebelumnya pernah melayani bersama Institut Injil Indonesia di Batu-Malang, kembali ke Indonesia dengan suatu visi untuk membantu kegerakan misi Indonesia dalam bidang Member Care.

Pada bulan Mei 2013 Konsultasi Member Care Indonesia (KMCI) ke-2 dapat diadakan di Jakarta dengan Dr. Laura Mae Gardner, seorang pakar dan praktisi Member Care dari AS, sebagai nara sumber yang kompeten dan ramah. Ada lebih dari 100 pemimpin gereja dan lembaga yang hadir. Kesimpulan pada peserta waktu itu bahwa "Member Care" mengisi kebutuhan nyata dalam kegerakan misi Indonesia dan perlu disosialisasikan seluas-luasnya.

KMCI ke-3 di Surabaya pada bulan Juni 2014 mempertemukan 140 peserta dari 26 lembaga misi, 15 gereja dan 5 sekolah teologi – sekali lagi dengan Dr. Gardner sebagai nara sumber. Penerbitan buku beliau "Sehat, Tangguh & Efektif dalam pelayanan lintas budaya: Panduan lengkap Member Care" sangat menunjang pemahaman sambil menyediakan resources yang lebih lengkap.

KMCI ke-4 bulan November 2015 di Bandung dihadiri oleh 200+ peserta dari 32 Gereja, 27 Yayasan dan 8 STT. Sejak itu kegerakan Member Care di Indonesia terasa semakin mendarat dan berkembang dan membuahkan 'Member Care Indonesia' – sebuah jaringan yang dihidupi oleh pribadi-pribadi yang berhati Member Care dari berbagai lembaga dan gereja.

'Member Care Indonesia' berdiri untuk membantu gereja-gereja dan lembaga-lembaga pengutus dengan pelatihan Member Care, yaitu tentang penanangan para ULB pada masa persiapan, pelayanan di lapangan dan waktu kembali agar tetap sehat, tangguh dan efektif serta memuliakan Allah dalam kehidupan dan pelayanan.

Lokasi
/lo.ka.si/

Sebuah mimpi dari Member care Indonesia adalah bahwa di setiap provinsi di Indonesia terdapat pejuang-pejuang Member Care bagi pelayanan lintas budaya. Pada saat ini visi tersebut masih terus dikerjakan.

Pada saat ini, para trainer dan fasilitator training Member Care telah tersebar di beberapa daerah. Dalam kurun waktu setahun dua kali (Mei dan September), kami berkumpul untuk mengadakan Training Member Care di beberapa tempat di Indonesia. Informasi ini dapat diakses di halaman Informasi Training.

Jika ada Gereja, Yayasan, Sekolah Tinggi ataupun Organisasi tertentu yang ingin mengadakan training di tempat atau kota mereka, dapat menghubungi kami sebelumnya. Pengaturan training seperti ini dapat diusahakan bersama jauh-jauh hari.

Dapat menghubungi kami di memcareindo@gmail.com atau event@memcareindo.org

cara
/ca·ra/

Dalam usaha menjangkau dan melatih para pelaku Member Care, setiap tahunnya Member Care Indonesia (MCI) menyelenggarakan Training Course Member Care (TCMC) dan Training Barnabas (TB).

TUJUAN

Tujuan akhir Training Member Care ialah agar para ULB sehat, tangguh, efektif, dan memuliakan Tuhan. Untuk mencapai tujuan ini, Training Member Care bertujuan untuk:

  • Menyadarkan Gereja, Organisasi misi dan STT akan tugasnya mempersiapkan, memperlengkapi, mengutus, memperhatikan dan menyambut kembali ULB di antara STA (melalui 'Training Course Member Care').
  • Mengkaderkan dan memperlengkapi para pemerhati serta para supervisor ULB di antara STA dengan pengetahuan, sikap dan skill yang paling penting (melalui modul-modul 'Training Barnabas').

PENEKANAN UTAMA

Pengembangan sikap dan "hati" para pengutus, pendukung dan pemerhati.

CIRI KHAS

Setiap training bersifat praktis dengan kesempatan untuk dapat langsung melatih keterampilan-keterampilan yang dipelajari. Para fasilitator memiliki pengalaman sendiri dalam pelayanan lintas budaya selama bertahun-tahun.

PELAKSANAAN

Training Course Member Care (TCMC) biasanya diadakan dua kali setiap tahunnya (Mei dan September). Training dasar ini wajib untuk diikut. Setelah mengikuti TCMC maka peserta dapat melanjutkan untuk mengikuti Training Barnabas (TB). Untuk pelaksanaan khusus, sebuah lembaga atau gereja dapat meminta pelaksanaan Training Course Member Care atau modul-modul Training Barnabas khusus untuk organisasi tersebut.

Jadwal Pelatihan Berikutnya
Tgl. Pelatihan Nama Pelatihan Tempat Biaya (Rp)